19+ Contoh Kasus Pelanggaran Ham di Indonesia, TERLENGKAP | Berat & Ringan

Kasus Pelanggaran HAM di Indonesia – Manusia mempunyai hak. Hak tersebut berupa hak untuk hidup, berkeluarga dan berketurunan, mengembangkan diri, keadilan, rasa aman, kesejahteraan dan hak untuk dilindungi sebagai wanita atau anak. 

Hal- hal yang berkaitan dengan perenggutan, pengurangan, pembatasan, penghalangan, pengabaian, penghilangan dan perampasan hak seseorang atau sekelompok orang disebut dengan Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

 

Jenis Pelanggaran HAM

Pelanggaran HAM terbagi ke dalam 2 jenis, yakni pelanggaran ham ringan dan pelanggaran ham berat.

1. Pelanggaran HAM Ringan

adalah suatu pelanggaran yang tidak mengancam jiwa manusia. Namun, berbahaya apabila tidak segera ditanggulangi atau diatasi. Pelanggaran ringan bisa berubah menjadi pelanggaran berat apabila terjadi hal- hal yang mengakibatkan efek besar dikemudian hari.

Contoh Kasus Pelanggaran HAM Ringan

  • Pencemaran lingkungan
  • Melakukan penganiayaan ringan
  • Melakukan pemukulan
  • Melakukan pencemaran nama baik terhadap seseorang
  • Menghalangi seseorang untuk menyampaikan aspirasinya dll


2. Pelanggaran HAM Berat

Pelanggaran HAM berat adalah pelanggaran yang dilakukan hingga mengancam atau merenggut nyawa seseorang ataupun sekelompok orang. Menurut Undang-Undang RI nomor 26 tahun 2000  tentang pengadilan HAM.

Pelanggaran HAM berat diklasifikasikan dalam 2 bagian. Pertama, Kejahatan Genosida atau kejahatan yang dilakukan dengan tujuan untuk memusnahkan atau menghancurkan sebagian atau seluruh kelompok.

Baik itu kelompok ras, bangsa ataupun agama: Kedua, adalah kejahatan terhadap manusia, baik itu berupa penghilangan nyawa seseorang, perbudakan dsb.

Contoh Kasus Pelanggaran HAM Berat  

  • Pembunuhan
  • Penghilangan orang secara paksa
  • Perkosaan
  • Perbudakan
  • Pengusiran, penganiayaan dan penyiksaan terhadap suatu kelompol
  • Kejahatan Apartheid dan Genosida.

 


Contoh Kasus Pelanggaran Ham di Indonesia


Di Indonesia, terdapat banyak kasus pelanggaran HAM Berat yang terjadi (utamanya) dalam kurun tahun 1960-an sampai tahun 2000-an. Beberapa diantara kasus tersebut menyita perhatian masyarakat Indonesia. karena penyelesaiannya yang berlarut larut dan dalang utama dibalik peristiwa- peristiwa tersebut belum terungkap.

Kejadian pelanggaran HAM di Indonesia jenis berat terjadi (utamanya) melibatkan militer dari pemerintahan Orde Baru beserta Mahasiswa, aktivis dan rakyat sipil sebagai korban terbanyak. Berikut diantaranya:


1. Kasus Pembunuhan Salim Kancil (2015)


contoh kasus pelanggaran ham di Indonesia
bangsaonline.com

Salim Kancil adalah seorang aktivis petani yang tewas dibantai oleh puluhan warga desa selok awar-awar, Kabupaten Lumajang pada 26 September 2015 lalu. Pembantaian ini dilatar belakangi oleh keberaniannya menentang tambang pasir ilegal yang merusak lahan pertanian warga dan juga merusak kelestarian alam.

Saat itu, Salim bergerilya, menghimpun kekuatan dengan mengumpulkan para petani untuk melakukan perlawanan terhadap pihak penambang pasir ilegal yang dikomandoi oleh tim 12  (mantan tim kampanye kades mereka: Haryono).

Berbagai upaya dilakukan Salim kancil untuk menghentikan aktivitas penambangan tersebut. Namun, perlawanannya membuat orang- orang yang mendukung penambangan pasir ilegal berang. Sampai akhirnya pada Sabtu 26 September 2015, rumah salim di serang puluhan orang. Ia disiksa dan diseret sampai ke balai desa hingga tewas. 

Penyelesaian Hukum :

2 Otak pembunuhan terhadap Salim Kancil, yakni Hariyono (Kepada desa non-aktif Selok awar-awar) dan Madasir (Ketua lembaga masyarakat desa hutan atau LMDH) setempat divonis oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surabaya, pada 23 Juni 2006, dengan vonis masing- masing 20 tahun kurungan penjara. 


2. Penembakan Misterius (Petrus)


dictio.id

Penembakan Misterius atau Petrus adalah operasi rahasia pada masa pemerintahan presiden Soeharto tahun 1980-an untuk mengatasi tingkat kejahatan yang amat tinggi pada masa itu. Inti dari operasi ini adalah untuk menangkap dan membunuh orang-orang yang dianggap mengganggu ketenteraman dan keamanan di wilayah Jakarta dan Jawa Tengah.

Korban petrus kebanyakan ditemukan masyarakat dalam keadaan diikat tangan dan lehernya. Beberapa diantara mereka dimasukkan ke dalam karung dan dibuang di kebun, di depan rumah, sungai, laut dan bahkan di pinggir jalan.

Tahun 1983 sebanyak 523 orang  tercatat terbunuh sebagai korban petrus. 367 orang diantara korban tersebut meninggal akibat luka tembak. Selanjutnya pada 1984 tercatat 107 orang meninggal dengan 15 orang diantaranya tewas karena luka tembak. Dan yang terakhir pada 1985 sebanyak 74 orang tewas dengan 28 diantaranya tewas karena luka tembak.

 


3. Peristiwa Tanjung Priok (1984)


peristiwa tanjung priok 1984
salamadian.com

Tragedi tanjung priok merupakan peristiwa yang melibatkan massa Islam dan pemerintahan Orba (Orde baru). Tragedi di tanggal 12 September 1984 ini menewaskan ratusan orang dari masyarakat Muslim. (informasi korban simpang siur).

Peluru- peluru timah diberondongkan tentara bersenjata lengkap yang sudah siap menghadang ribuan massa yang menuntut pembebasan 4 tahanan di Mapolres Jakarta Utara dan Kodim yang jaraknya berdekatan.

Masa pun berhamburan dan korban berjatuhan. Bahkan, menurut saksi dalam kejadian tersebut (AQ Djaelani). Beberapa orang yang bertiarap menghindari desingan peluru dilindas oleh 2 truk yang saat itu mengangkut pasukan tambahan dari arah pelabuhan. (tirtoid)


4. Penculikan Aktivis 1998


voaindonesia.com

Penculikan aktivis 1998 merupakan penghilangan secara paksa aktivis pro-demokrasi menjelang sidang umum MPR pada tahun 1998. Penghilangan secara paksa atau penculikan ini terjadi dalam 3 tahap. Yang pertama adalah menjelang pemilu 1997 dan 2 bulan sebelum sidang umum MPR maret 1998.

9 aktivis yang diculik pada tahap 2 dilepas dan berbicara secara terbuka kepada publik tentang pengalaman mereka saat dihilangkan secara paksa. Namun mereka yang diculik pada tahap 1 dan tahap 3 tidak ada yang kembali satu orang pun.

Total korban dari peristiwa ini adalah 1 orang dibunuh, 12 orang dianiaya, 11 orang disiksa, 19 orang dirampas kemerdekaan fisiknya dan 23 orang dihilangkan secara paksa. Komnas HAM menyimpulkan peristiwa ini termasuk ke dalam pelanggaran berat berdasarkan UU No 25 tahun 2000 dan mulai melakukan penyelidikan dari 1 Oktober 2005 hingga 30 Oktober 2006.


5. Tragedi Trisakti (12 Mei 1998)


kasus pelanggaran ham di indonesia trisakti

wikipedia.org

Tragedi Trisakti terjadi pada tanggal 12 Mei 1998, Mahasiswa yang berdemonstrasi menuntun Soeharto turun dari jabatannya terlibat bentrok dengan aparat yang ingin membubarkan demonstrasi.

4 orang mahasiswa tewas tertembak dalam peristiwa ini diantaranya Hafidin Royan (1976 – 1998) , Elang Mulias Lesmana (1978-1998), Heri Hertanto (1977 – 1998) dan Hendriawan Sie (1975 – 1998).

 


6. Kerusuhan Mei 1998


kasus pelanggaran HAM di indonesia mei 1998

konfrontasi.com

Peristiwa ini adalah kerusuhan rasial terhadap etnis Tionghoa yang terjadi 13-15 Mei 1998 di Jakarta dan beberapa kota lainnya. Kejadian ini dipicu oleh penembakan mahasiswa Trisakti sehari sebelumnya dan juga anggapan bahwa pengusaha- pengusaha Tionghoa-lah yang menyebabkan ekonomi Indonesia carut-marut.

Toko toko, rumah, kantor swasta, bengkel dan pusat perbelanjaan milik warga keturunan TIonghoa di hancurkan, dibakar dan dijarah. Sementara itu banyak wanita keturunan tionghoa yang mengalami pelecehan seksual bahkan dianiaya sampai dibunuh.

Banyak pihak menilai peristiwa tersebut bukanlah sesuatu yang terjadi secara spontanitas. Namun ada pihak- pihak yang menggerakan kejadian tersebut secara sistematis.


7. Pembantaian Banyuwangi (1998)


contoh kasus pelanggaran ham di indonesia
google images

Pada tahun 1998, Banyuwangi geger dengan pembunuhan terhadap orang yang diduga terlibat praktek perdukunan (santet) yang kemudian merembet ke pembunuhan guru ngaji, ustad dan tokoh- tokoh agama.

Pembunuh misterius tersebut kemudian disebut “Ninja”. Karena setiap kali beraksi. Orang-orang tersebut selalu menggunakan pakaian hitam dan juga penutup kepala menyerupai ninja.

Suasana saat itu sangat mencekam, Semua orang saling mencurigai satu sama lain. Masyarakat bertanya-tanya. Siapa sebetulnya dalang dan apa motif dibalik peristiwa tersebut. Sampai sekarang, pertanyaan- pertanyaan itu pun masih belum terungkap jawabannya secara pasti.


8. Peristiwa Kudatuli


contoh kasus pelanggaran ham di indonesia kudatuli
edukasippkn.com

Peristiwa ini adalah penyerbuan dan pengambilalihan paksa kantor DPP PDI di Jakarta Pusat pada tanggal 27 Juli 1996, oleh massa pendukung Soerjadi yang dibekingi oleh aparat kepolisian dan juga ABRI. 

Rekayasa pemerintah ORBA Soeharto untuk menggulingkan Megawati Soekarnoputri dari pucuk pimpinan parta dilawan oleh pendukung Megawati yang didukung oleh rakyat yang semakin kritis atas perilaku politik Orde Baru. 

Peristiwa tersebut meluas jadi kerusuhan di beberapa wilayah di Ibukota, beberapa kendaraan dan gedung pun terbakar. Hasil penyelidikan Komnas HAM 5 orang meninggal dunia, 149 orang luka luka dan 136 orang ditahan.


9. Tragedi Semanggi 1 (1998)


Peristiwa Semanggi 1 terjadi menjelang penutupan sidang Istimewa MPR yang berlangsung dari 10-13 November 1998 di Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta.

Demo besar- besaran dilakukan setiap hari selama masa sidang tersebut. Mereka menuntut pembersihan orang- orang Orde Baru dari pemerintahan dan juga Militer dari dunia politik.

Puluhan ribu mahasiswa dan masyarakat yang bergerak menuju ke tempat pelaksanaan sidang, dihadang oleh barikade aparat yang terdiri dari Brimob, tentanra dan Pamswakarsa.

Mendekati hari terakhir masa sidang, mahasiswa yang berusaha menembus garis batas 2 kilometer dari MPR kembali menghadapi pemukulan aparat yang semakin brutal.

Aparat mulai melepaskan tembakan yang tak hanya dari peluru karet dan hampa, Namun juga peluru- peluru tajam ke arah Demonstran. Korban pun berjatuhan, suasana kacau, ambulans hilir mudik membawa korban luka yang bergelimpangan karena tembakan ataupun pukulan dari benda keras dan tumpul aparat.


10. Tragedi Semanggi II


Pada masa pemerintahan transisi terjadi pendesakan agar pemerintah segera mengesahkan UU PKB (Penanggulangan Keadaan Bahaya) yang isi materinya dinilai oleh banyak kalangan memberikan keleluasaan berlebihan kepada militer dan cenderung sewenang-wenang. Mahasiswa pun berdemonstrasi dalam jumlah besar untuk menentang UU PKB tersebut dan meminta agar pemerintah menghapuskan dwi fungsi ABRI/TNI.

Hanya dengan cara berdemonstrasilah aspirasi mereka dapat didengar oleh segelintir orang yang menggunakan kekuasaan bertameng Undang-Undang demi kepentingan pribadi. Para mahasiswa itupun ditanggap dan ditembaki di bawah jembatan Semanggi. Peristiwa tersebut terbilang sangat keji karena lokasi penembakan berada di tempat strategis dan dapat dilihat dengan mudah oleh masyarakat awam.


 11. Kasus Pembunuhan Munir


contoh kasus ham di indonesia pembunuhan munir
google images

Munir Said Thalib adalah seorang aktivis yang aktif memperjuangkan hak-hak orang tertindas dan terdzhalimi. Namanya melambung ketika ia ikut membela para aktivis korban penculikan tim mawar Kopassus. Ia tewas dalam perjalanan pesawat garuda tujuan Amsterdam, Belanda.

Hasil uji forensik kepolisian Belanda kemudian menemukan jejak jejak senyawa arsenikum dalam proses otopsi. Ia tewas diracun oleh orang yang tidak suka dengan sepak terjangnya menumpas kesewenangan yang marak terjadi, utamanya di jaman orde baru.

Ada dugaan, motif pembunuhan dikarenakan ia memegang data penting terkait pelanggaran pelanggarah HAM semisal.  Pembantaian di Talangsari, Lampung (1989), Penculikan aktivis (1998) dan referendum Timor Timur dsb.

Penyelesaian Hukum :

Sampai saat ini, Kasus Munir masih jalan ditempat. Meskipun pengadilan telah menjatuhkan vonis 14 tahun pidana terhadap Pollycarpus Budihari Priyanto yang diduga sebagai otak pembunuhan. Namun motif dan aktor utama dibalik kasus yang juga menyita perhatian dunia Internasional ini masih belum terselesaikan.

12. Pembantaian PKI

Pembantaian PKI terjadi pada tahun 1965 hingga tahun 1966. Pada saat itu diperkirakan lebih dari satu juta orang dipenjara dan lebih dari setengah juta orang dibantai secara biadab. Partai Komunis Indonesia dihancurkan karena dituduh sebagai dalang rencana kudeta terhadap presiden Soekarno.

Tanpa penyelidikan dan data yang memadai, Soeharto menyimpulkan jika PKI adalah partai terlarang dan harus dibersihkan dari kehidupan sosial, politik dan militer. Peristiwa pembantaian ini dimulai pada awal tahun 1966 dan berakhir pada awal tahun 1967, tepat sebelum Soeharto dilantik menjadi pejabat presiden.

Pembantaian hampir terjadi di seluruh pelosok Indonesia, namun yang terparah terjadi pada basis-basis PKI yang ada di Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara dan Bali.

13. Marsinah

Marsinah merupakan seorang pejuang HAM yang menjadi penggerak para buruh. Peristiwa ini terjadi pada mei 1993. Marsinah dan para buruh PT Catur Surya pada saat itu melakukan demo dan mogok kerja demi menuntut kepastian kepada perusahaan yang telah mem-PHK karyawannya tanpa alasan.

Beberapa sumber menyatakan jika demo pada 3 dan 4 mei 1993 itu menuntut agar upah buruh dapat dinaikkan. Namun sayangnya pada 8 Mei 1993 atau 5 hari setelah peristiwa tersebut, Marsinah ditemukan dalam keadaan meninggal dengan luka lebam dan darah di sekujur tubunya.

Sebelumnya diketahui jika Marsinah sudah menghilang secara misterius sejak tanggal 6 mei 1993. Hingga saat ini belum ada titik terang mengenai kasus ini atau bahkan pelakunya. Banyak pihak yang mengecam perbuatan keji tak berperikemanusiaan yang dilakukan kepada Marsinah.

14. Peristiwa Talangsari

Peristiwa Talangasari yang terjadi pada 1989 merupakan sebuah insiden yang terjadi antara komunitas Warsidi dengan aparat setempat di Dusun Talangasari III Lampung Timur. Pada awalnya Warsidi dijadikan imam dan panutan oleh Nurhidayat dan kelompoknya.

Dalam catatan, Nurhidayat pernah bergabung dalam gerakan Darul Islam-Tentara Islam Indonesia (DI-TII) dan kemudian menyempal dan mendirikan kelompok sendiri di Jakarta. Nuhidayat dan Sudarsono kemudian merencanakan sebuah gerakan di Talangsari. Aparat pun mencium rencana gerakan tersebut dan datang ke Talangsari untuk meminta keterangan kepada Warsidi dan pengikutnya.

Namun kedatangan Aparat ini dihujani anak panah yang membuat Kapten Soetiman meninggal. Aparat pun mengambil tindakan tegas dan menyerbu Talangsari. Warsidi dan para pengikutnya sebanyak 27 orang tewas. Kemudian 173 lainnya ditangkap.

15. Kasus Wartawan Udin

Wartawan Udin memiliki nama lengkap Fuad Muhammad Syarifuddin dan merupakan seorang wartawan dari SKH Benas di Yogyakarta. Udin diduga ‘dihilangkan’ karena beberapa tulisannya yang mengusik bupati Bantul kala itu yaitu Sri Roso Sudarmo.

Beberapa tulisan Udin yang dianggap mengusik kekuasaan orde baru diantaranya adalah “3 kolonel ramaikan bursa calon bupati Bantul”, “Di desa Karantengah Imogiri, Dana IDT hanya diberikan separo” dan masih banyak lagi. Udin meninggal pada tanggal 16 agustus 1996 usia dianiaya orang tak dikenal di sekitar daerah rumahnya.

Udin sempat koma karena mengalami gegar otak selama 3 hari. Orang tak dikenal tersebut menganiaya Udin dengan menggunakan sebatang besi. Banyak kejanggalan yang terjadi atas kasus meninggalnya Udin. Namun hingga kini kepolisian maupun aparat penegak hukum tidak mampu memberikan titik terang kasus ini.

16. Kasus Pulau Buru

Sejak tahun 1965 hingga 1975 ada 2 hal yang menonjol dari pemerintahan presiden Soeharto. Yang pertama adalah kasus pembantaian masal 1965 dan pulau buru. Setelah pembantaian PKI pada 1965, kurang lebih ada 1 juta orang yang menjadi tahanan politik. 12.500 orang diantaranya dibuang ke Pulau Buru karena penjara di seluruh Indonesia telah penuh.

Di sana mereka diperintah melakukan kerja paksa sejak tahun 1969 hingga 1979. Komnas HAM menyimpulkan terjadinya pelanggaran kejahatan terhadap kemanusiaan terhadap kasus pulau buru dan membentuk tim khusus pada Maret 2003.

17. DOM di Aceh

Operasi Jaring Merah di Aceh diluncurkan sejak awal 1990-an hingga 1998. Operasi ini merupakan operasi kontra-pemberontakan melawan gerakan separatis GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Selama periode tersebut Aceh ditetapkan sebagai DOM (Daerah Operasi Militer) dimana pada saat itu TNI diduga melakukan pelanggaran HAM tersistematis dengan skala besar terhadap pejuang GAM.

Eksekusi sewenang-wenang, penyiksaan, penculikan dan penghilangan secara paksa terjadi dengan membabi buta. Dalam kejadian itu diperkirakan ada 300 wanita dan anak di bawah umur yang mengalami kekerasan seksual dan kurang lebih 12.000 orang tewas. Tidak hanya militan GAM, warga sipil Aceh yang tidak bersalah pun menjadi korban.

18. Peristiwa Paniai 2014

Peristiwa ini terjadi pada Desember 2014. Kurang lebih ada 55 orang dijadikan sebagai tahanan politik, 6 orang Papua tewas dan 22 orang mengalami luka berat akibat tembakan yang bertubi-tubi dan membabi buta dari anggota militer.

Pada 8 Desember 2014, 800 orang demonstran menjalankan aksi damai untuk memprotes tindakan penyiksaan anak umur 13 tahun oleh anggota militer. Anggota tim khusus militer 753 juga bertanggung jawab atas penyiksaan 2 anak di bawah umur lainnya. Anggota militer menghujani para demonstran tersebut dengan tembakan dan korban pun berjatuhan.

Pejabat militer Indonesia menyimpulkan bahwa penembakan tersebut berkaitan dengan Operasi Papua Merdeka (OPM) tanpa adanya investigasi yang teliti dan adil.

19. Peristiwa Mangkuk Merah

Peristiwa Mangkuk Merah terjadi pada 1967 yang merupakan peristiwa penyerangan, pengusiran serta pembunuhan terhadap etnis Tionghoa di pedalaman Kalimantan barat oleh suku Dayak. Peristiwa ini sarat dengan nuansa politik. Setidaknya ada 3000 orang tewas dibunuh di pedalaman dan kurang lebih 5000 orang tewas di pengungsian karena kelaparan dan gizi buruk.

20. Pembantaian Rawa Gede

Pembantaian Rawa Gede dilakukan oleh militan Belanda di Kampung Rawa Gede Karawang ketika meluncurkan agresi militer pertamanya. 431 penduduk sipil menjadi korban dan 35 orang penduduk kampung Rawa Gede dibunuh tanpa alasan yang jelas.

 


 

 

10 – 19 . …. (Sedang Diperbaharui_)


Demikian artikel singkat tentang contoh kasus pelanggaran HAM di Indonesia seperti tragedi Banyuwangi, Tanjung Priok dan Peristiwa tahun 1998 di Ibukota. Artikel ini akan mengalami pembaruah dari jumlah kata ataupun isi konten.

Sekian dan Terima Kasih _ 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *