Serba-serbi Anekdot: Kaidah Penulisan dan Beragam Contohnya

Contoh Anekdot – Sekilas, wujudnya memang serupa dengan banyak cerita lucu lain. Namun, anekdot sebenarnya bukanlah lelucon yang sekadar “membangkitkan” tawa, Sebuah anekdot punya tujuan lain, seperti halnya mengungkapkan kebenaran bahkan kerap melukiskan sebuah karakter (menyindir).

Anekdot—atau dalam bahasa Yunani ἀνέκδοτον (tidak diterbitkan)—pertama kali dikeluarkan oleh  Procopius of Caesarea, seorang penulis biografi yang menerbitkan karya berjudul Ἀνέκδοτα (Aul nekdota). Karya ini, secara beragam diterjemahkan sebagai “Memoar yang Tidak Diterbitkan” atau “Kisah Rahasia”. Adapun isinya, berkaitan dengan kejadian-kejadian singkat dari kehidupan pribadi yang terjadi di Istana Bizantin. Barulah sejak saat itu, istilah anekdot secara bertahap ditujukan untuk setiap cerita singkat yang menjadi media untuk menekankan atau justru mengilustrasikan poin apa pun yang diinginkan oleh penulisnya. Meski demikian, anekdot tidak sama dengan model ilustrasi atau metafora.


PENGERTIAN TEKS ANEKDOT


Secara umum, anekdot merupakan sebuah cerita singkat—sudah dipastikan lucu dan menarik—yang mungkin saja justru menggambarkan sebuah kejadian atau seseorang dalam dunia nyata. Tidak peduli apakah pendengarnya mengetahui dengan pasti kejadian atau justru orang-orang yang terlibat, anekdot seolah menjadi cara yang digunakan untuk menertawakan realitas, yang sebenarnya tabu dalam dunia nyata.


CIRI-CIRI ANEKDOT


Terdapat beberapa ciri khusus sebuah anekdot. Ini meliputi penceritaan yang didasarkan pada kisah nyata; melibatkan karakter hewan dan tokoh manusia yang sungguh ada—lepas dari ia terkenal atau justru tidak; serta berlatar tempat yang tidak bisa diidentifikasi. Kendati demikian, perkembangan waktu berikut teknik penulisan kerap berdampak pada pengubahan anekdot menjadi semacam fiksi.

Praktik pemakaian anekdot sendiri pada akhirnya kentara pada banyak situasi politik. Di bawah rezim otoritarian Uni Soviet, misalnya. Ada beragam jenis anekdot politik yang tersebar di masyarakat, bukan hanya untuk membuat pembacanya terpingkal, melainkan juga “membuka” dan mencela kejahatan dari sistem politik pemimpinnya. Hal yang sama juga berlaku di Indonesia, yakni di zaman Orde Baru—ketika kebebasan berpendapat begitu dikekang—hingga Reformasi masa kini.

Sebagai informasi, berikut adalah detail ciri anekdot yang dapat Anda ketahui.

  1. Gaya penulisannya dapat dikatakan dekat dengan dongeng. Bagaimanapun anekdot mengadopsi gaya penceritaan yang hampir mirip dongeng; terutama manakala pembacanya tidak mengetahui, apakah cerita tersebut benar-benar nyata atau justru hanya karangan belaka.
  2. Menampilkan karakter hewan dan tokoh manusia. Adapun beberapa anekdot kerap mengambil tokoh orang-orang yang biasanya dikenal (pejabat publik, artis, seniman, dsb.) meski tidak menutup kemungkinan justru menciptakan nama sendiri yang mewakili citra kelompok masyarakat tertentu (contoh: Mukidi).
  3. Bersifat humor, bualan, menggelitik, dan menceritakan lelucon. Meski demikian, tujuan anekdot tidaklah sebatas membuat pembacanya tertawa. Lebih dari itu, seperti yang telah disebutkan, anekdot juga punya tujuan tertentu, mulai dari “menyindir”, mengkritik, hingga sekadar menggambarkan ironi realitas yang terjadi di tengah masyarakat.

Berikut adalah contoh teks anekdot singkat, yang diambil dalam buku Anekdot Cina, hasil terjemahan Rasti Suryaandani.

Danau Baru

Perdana Menteri dari Dinasti Sung, Wang An-shih, menaruh perhatian pada proyek-proyek yang ditujukan untuk keperluan umum. Seorang pria yang ingin mendapat pujian dari perdana menteri menawarkan sebuah usulan. “Kosongkan air danau Liang-shanpo, dan Tuan akan mendapatkan gantinya berupa 800 hektare li tanah yang subur,” kata orang itu.

Wang An-shih merasa senang mendengarnya, ia pun bertanya, “Ke mana air itu akan dibuang?”

“Gali danau baru yang berukuran sama di sebelahnya dan masalah tersebut bisa segera diatasi,” jawab Liu Kung-fu.

 


KAIDAH DAN STRUKTUR TEKS ANEKDOT


Dalam penulisannya, anekdot tidak lepas dari beragam kaidah dan struktur yang harus diikuti. Beberapa kaidah anekdot tersebut mencakup: 1) penggunaan pertanyaan retorik, 2) penggunaan kata keterangan waktu lampau (sebagai contoh: dahulu, pada masa itu, dsb), 3) adanya kata penghubung, 4) kata kerja, 5) pada banyak kasus menggunakan kalimat perintah, dan 6) diceritakan berdasarkan urutan waktu. Adapun struktur yang umum ditemukan dalam banyak anekdot, antara lain:

  1. Abstraksi. Ini merupakan bagian di awal paragraf sebuah anekdot. Fungsinya, yakni memberikan gambaran tentang isi teks secara umum.
  2. Orientasi. Merupakan bagian yang menunjukkan awal mula kejadian cerita; berikut latar belakang peristiwa atau suatu masalah dalam anekdot.
  3. Krisis. Merupakan bagian yang memuat rangkaian masalah atau peristiwa unik atau tidak biasa, yang sedang terjadi pada si tokoh.
  4. Reaksi. Mencakup cara penulis atau justru si tokoh yang ditulis menyelesaikan masalah yang timbul di bagian krisis.
  5. Koda. Merupakan bagian terakhir atau penutup dari sebuah anekdot.

Sebagai gambaran, berikut adalah pemaparan terkait contoh teks anekdot beserta strukturnya.

Permintaan Ketiga

Seorang pria sedang membersihkan barang antiknya ketika tiba-tiba Jinny keluar —- abstraksi

“Jadi apa permintaanmu yang ketiga?” Dengan bingung si pria bertanya, “Lho, permintaan pertama dan kedua kan belum.” —- orientasi

Mendengar pernyataan laki-laki tersebut, Jinny pun berkata dengan tidak sabar, “Sudah. Pada permintaan kedua, kamu minta supaya dikembalikan seperti keadaan semula, seperti sebelum aku mengabulkan permintaan pertamamu. Karena kembali seperti semula, kamu jadi lupa dengan kedua permintaanmu sebelumnya. Ayo cepat, dong. Segera sebutkan permintaan ketigamu.” —- krisis

“Kalau begitu, aku ingin menjadi pria yang dipuja-puja dan dikejar-kejar perempuan,” kata pria tersebut. —- reaksi

Jinny pun langsung mengabulkannya. Namun, sesaat sebelum menghilang selamanya ia berkata, “asal tahu saja, permintaan ini sama dengan permintaan pertamamu…” —- koda

 


CONTOH TEKS ANEKDOT


Keberadaan teks anekdot pada praktiknya bergantung pada situasi masyarakat di masa itu. Berikut adalah beberapa contoh teks anekdot yang diambil dari beberapa sumber.


Contoh Teks Anekdot Layanan Publik


Aku Baik-baik Saja

Seorang kakek tunawisma berjalan di jalanan sepi. Dari baju yang ia kenakan, ia terpihat sangat miskin. Kakek tersebut hendak menyeberang jalan, ketika sebuah secara mendadak, sebuah mobil cepat melintas di hadapannya. Lantaran kaget, ia pun berteriak dengan keras, dan mulai menangis ketakutan.

Merasa bersalah, pengemudi tersebut langsung keluar dan menghampiri sang kakek yang mungkin sudah ia tabrak tadi. Ia bertanya kepada si kakek, “maaf, Kek. Apakah saya baru saja menabrak Anda?”

Dengan ramah sang kakek menjawab, “tidak, Nak.”

Sang Pengemudi masih penasaran. “apakah kakek sedang kelaparan dan mencoba memanggil bantuan dengan menjerit serta menangis?”

Tetapi sang kakek menggeleng. Ia kembali menjawab “tidak”.

Si pengemudi bingung. Berhati-hati ia bertanya, “lalu, apa yang membuat Kakek menjerit dan menangis?”

Sembari berbalik badan dan hendak pergi, sang kakek justru menjawab, “saat kamu melintas tadi, ban mobilmu sempat melindas kakiku. Itu sebabnya aku menjerit!”

Contoh Teks Anekdot Pendidikan

Tanda Orang Pintar

“Anak-anak, apa tanda orang pintar?” Tanya seorang guru kepada muridnya.

“Rajin membaca dan menulis, Bu!” jawab mereka serentak.

“Bagus-bagus,” puji guru  tersebut.

“Rajin nyontek, Bu!” Tiba-tiba Amir menjawab.

“Mengapa begitu, Mir?”

“Buktinya, kita menyontek kapal, akhirnya kita pintar buat kapal. Betulkan, Bu?” Jawab Amir lugas.

“Betul juga kamu, Mir. Jadi, anak-anak rajin-rajinlah mencontek, ya,” kata guru tersebut.

“Asik, besok ulangan kita bisa mencontek ya, Bu?”

“Bukan yang model itu!”

 

 

Itulah serba-serbi tentang anekdot yang bisa Anda ketahui. Adapun untuk contoh-contoh lain, seperti halnya contoh teks anekdot politik, dapat Anda lihat pada artikel selanjutnya. Semoga bermanfaat!

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *